السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Panel Home
Other Content
HADITSHR BUKHARI
    • Posts
    • Comments
    • Pageviews

  • Translate
  • Bersedekah Perlu Latihan atau Belajar

    Segala puji bagi Allah ta’ala, dan semoga sholawat dan salam selalu tercurah kepada Rosulullah -sholallahu ‘alaihi wasalam- beserta para keluarga dan pengikut serta beliau hungga akhir zaman, amma ba’du:
    Harta memang layak untuk dicintai. Setiap makhluk hidup –tidak terkecuali manusia – memiliki fitrah untuk mencintai setiap hal yang dapat memenuhi kebutuhannya baik lahir maupun batin. Seorang anak mencintai ibunya karena dia bisa memenuhi kebutuhan kasih sayang, mencintai ayahnya karena dia memenuhi nafkah hidupnya, suami istri saling mencintai karena saling memenuhi kebutuhan lahir dan batin mereka. Begitu pula dengan harta, dicintai karena dia bisa memenuhi kebutuhan kita, “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, Yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)” (Ali-Imron:14). Rasa cinta yang timbul inilah yang menyebabkan manusia memiliki rasa ketidakrelaan untuk kehilangan apa yang dicintainya. Sebagaimana seorang anak, ia tidak akan rela kehilangan orang tua, suami atau istri tidak rela kehilangan pasangannya, begitu pula kita tidak rela kehilangan harta. Itu bukanlah aib. Sebaliknya, rasa ketidakrelaan ini justru mendorong menusia untuk mempertahankan dan membela mati-matian apa yang dicintainya. Akan tetapi, perasaan ini berubah menjadi aib apabila timbul secara berlebihan. Seorang istri misalnya, jika dia memiliki rasa cinta yang berlebih kepada suaminya, maka tatkala sang suami meninggalkannya, hal itu akan membuat dia mencaci maki takdir dan ketetapan Allah ta’ala – na’udzu billahi min dzalik. Hartapun juga begitu, kecintaan yang berlebihan terhadap harta menyebabkan salah satu sifat bakhil atau kikir bersarang pada diri manusia, bahkan Allah ta’ala menggambarkan manusia yang memiliki sifat buruk ini dalam firman-Nya, “Katakanlah: Kalau seandainya kamu menguasai perbendaharaan-perbendaharaan rahmat Tuhanku, niscaya perbendaharaan itu kamu tahan, karena takut membelanjakannya”. dan adalah manusia itu sangat kikir” (Al-Israa: 100).

    Kalau sifat kikir sudah bersarang di dalam dada, sebanyak apapun harta tidak akan bisa membuat orang merasa “aman dan nyaman” untuk bersedekah. Takut tidak bisa membayar uang sekolah anak, takut tidak bisa membelikan kosmetik untuk istri, takut nanti kalau masuk rumah sakit tidak bisa membayar biaya berobat, takut masa depan anak, takut nanti kalau kendaraan rusak tidak punya uang untuk ke bengkel, takut harga barang-barang naik waktu lebaran, takut tidak bisa mengumpulkan harta cukup untuk biaya pernikahan, takut nanti kesulitan menafkahi keluarga setelah menikah, dan sejuta rasa takut lainnya yang bisa menjadi alasan seseorang untuk tidak membagi hartanya kepada orang lain, atau kalaupun harus berbagi usahakan uang receh saja, atau kalau bisa sumbang doa saja tidak usah sumbang harta, karena berdasarkan rumus matematika yang kita pelajari sejak duduk di bangku TK kalau “dua” dikurang “satu” hasilnya pasti “Satu”, dengan kata lain kalau “Budi” memiliki Rp.200,-. kemudian yang Rp.100- diberikan kepada “Ani” maka uang “Budi” sekarang tinggal Rp.100,-. Jadi kalau “Budi” ingin agar uangnya tidak berkurang maka jangan memberi uang kepada orang lain.

    Sifat kikir bukanlah masalah sepele, Rosulullah -sholallahu ‘alaihi wasalam- sudah memperingatkan umatnya akan bahaya penyakit yang satu ini, beliau bersabda: “Jauhilah oleh kalian kedzoliman, karena sesungguhnya kedzaliman itu akan menjadi kegelapan bagi pelakunya pada hari kiamat, dan jauh pula sifat kikir, karena sifat ini telah membawa kehancuran bagi umat-umat terdahulu”. (HR.Muslim)

    Imam Nawawi menjelaskan bahwa sifat kikir memicu mereka untuk saling membunuh sehingga kedzaliman merajalela. Selain itu, beliau -sholallahu ‘alaihi wasalam- juga bersabda: “Ada dua sifat yang tidak akan berkumpul dalam diri orang yang beriman: kekikiran dan akhlak yang buruk”. (HR.Tirmidzi)

    Beliau -sholallahu ‘alaihi wasalam- juga bersabda: “Dalam tubuh seorang hamba tidak akan pernah bercampur debu bekas jihad di jalan Allah dengan asap api neraka, dan dalam hati seorang hamba tidak akan pernah bercampur kekikiran dengan keimanan”. (HR. Tirmidzi, Nasa’I, dan Ibnu Majah)

    “Melatih diri” untuk dermawan sangatlah penting. Kenapa saya bilang “melatih diri untuk dermawan” bukan “menjadi dermawan”…? Karena memang kedermawanan itu butuh latihan. Tidak mungkin seseorang bisa mengangkat karung beras 50 Kg ketika dia berumur 5 tahun, butuh latihan otot bertahun-tahun. Seperti itu juga dengan sifat dermawan, untuk berani menginfakkan seluruh harta benda dijalan Allah sebagaimana yang dilakukan Abu Bakar – rodhiallahu’anhu – atau setengah harta pribadi sebagaimana yang dilakukan Umar – rodhiallahu’anhu – atau berbagi separuh harta dengan saudara seiman sebagaimana yang dilakukan Kaum Anshar kepada kaum Muhajirin, bukanlah hal mudah yang bisa terjadi dalam sehari semalam. Butuh waktu dan usaha untuk meyakinkan dalam diri kita bahwa ayat, “apa saja yang kamu nafkahkan, Maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah sebaik-baik pemberi rezki”. (Saba: 39)

    Mungkin ada benarnya kaidah “sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit”, tidak hanya berlaku dalam tabung-menabung saja, tapi dalam hal ini – melatih diri untuk dermawan- juga harus diterapkan. Artinya adalah untuk memberanikan diri mengeluarkan harta di jalan Allah dalam skala besar1 kita perlu membiasakan diri dengan sedekah-sedekah skala kecil. Abu Bakar -rodhiallahu’anhu- tidak mungkin berani menyedekahkan seluruh hartanya kecuali sebelumnya dia telah terbiasa menyedekahkan sebagian hartanya dengan membebaskan budak, menyantuni fakir miskin, dll. Keberanian – keberanian kecil yang terkumpul ketika mengeluarkan sedekah-sedekah kecil akan melahirkan keberanian besar untuk mengekuarkan sedekah yang besar pula.

    Hukum serupa juga berlaku untuk sifat kikir. Seseorang membiasakan diri dengan kikir – kikir kecil lama kelamaan tidak akan canggung lagi untuk melakukan kekikiran yang lebih besar. Sebelum orang-orang kafir dihukumi oleh Allah ta’ala sebagai makhluk yang kikir sampai-sampai apabila mereka memiliki perbendaharaan langit dan bumi mereka tetap akan kikir sebagaimana yang dijelaskan dalam surat al-israa diatas, mereka telah memupuk hati mereka dengan kekikiran-kekikiran kecil.

    Memang benar kalau kita berhitung dengan rumus matematika, sifat kikir itu mendatangkan keuntungan karena dengan begitu harta tidak berkurang. Namun sayang syariat islam tidak bisa di timbang dengan kaca mata matematika. Tidak semua yang berkurang itu berarti berkurang, dan tidak semua yang stabil itu berarti stabil. Rosulullah -sholallahu ‘alaihi wasalam- bersabda: “Sedekah itu tidak akan mengurangi harta”  (HR. Muslim)

    Beliau juga pernah bersabda kepada Asma binti Umaisy: “Janganlah engkau pelit (enggan bersedekah karena takut miskin) sehingga Allah Ta’ala pelit terhadapmu” (HR. Bukhori dan Muslim)

    Wallahu a’lam bishowab.

    Walhamdulillahi robbil ‘alamin.

    1. Yang dimaksud dengan “skala besar” disini bukanlah nilai nominal harta melainkan persentase harta yang di sedekahkan dibanding dengan jumlah keselruhan harta. Misalnya si A bersedekah sebanyak Rp.1.000,- sedangkan si B sebanyak Rp. 1.000.000.000.000.000.000.,- keduanya bersedekah ikhlas lillahi ta’ala di jalan Allah, tapi jumlah total kekayaan si A keseluruhanya adalah Rp.1.000,- yang artinya dia menginfakan seluruh hartanya 100%, sedangkan total kekayaan si B 1.000.000 kali lipat dari harta yang disedekahkan, di sisi Allah ta’ala sedekah si A jauh lebih unggul di bandingkan si B karena tingkat kesulitan dan tantangan yang harus dihadapi A lebih besar daripada B. wallahu a’lam.

    Oleh Ustadz Rizki Narendra

    0komentar :

    Posting Komentar

    top