السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Panel Home
Other Content
HADITSHR BUKHARI
    • Posts
    • Comments
    • Pageviews

  • Translate
  • Kajian Pemahaman Tentang Islam

    Meluruskan Pemahaman Tentang Islam." Islam secara etimologi bermakna penyerahan diri. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman, “Hanya kepada-Nya berserah diri semua yang ada di langit dan bumi, senang hati maupun terpaksa.” (QS. Ali Imran: 83)

    Adapun secara terminologi, maka dia mempunyai dua sudut tinjauan:

    1. Sudut tinjauan umum, maknanya adalah: Penyerahan diri kepada Allah dengan bertauhid, tunduk kepada-Nya dengan ketaatan dan berlepas diri dari kesyirikan serta para pelakunya. Dari sudut tinjauan ini, maka agama semua para nabi dan rasul adalah Islam, di antara dalil yang menunjukkan hal ini adalah doa Nabi Ibrahim dan Ismail -alaihimassalam- setelah keduanya membangun pondasi Ka’bah,  “Wahai Rabb kami, jadikanlah kami berdua sebagai orang yang muslim kepada-Mu.” (QS. Al-Baqarah: 128)

    2. Sudut tinjauan khusus, maknanya adalah: Agama yang dibawa oleh Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam-. Dari sudut tinjauan ini maka agama Islam hanyalah agama Rasulullah, bukan agama para nabi sebelum beliau. Sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala, “Sesungguhnya agama yang diterima di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Ali Imran: 19)

    Mengetahui definisi Islam dengan kedua sudut tinjauannya adalah perkara yang penting, mengingat di zaman ini dakwah ‘penyatuan agama’ atau slogan ‘semua agama itu sama’ semakin marak dan dipelopori oleh para intelek dan pemikir Islam ‘katanya’. Mereka pun kasak-kusuk mencari dalil akan slogan tersebut dan ‘kebetulan’ mereka mendapati beberapa ayat yang memuji ahlul kitab, semisal firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala, “Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh,” (QS. Al-Baqarah: 62) dan ayat-ayat yang semisal dengannya. Kata mereka: “Mereka (ahlul kitab) beriman kepada Allah dan hari akhirat, kalau begitu mereka sama saja dengan kita dan sama-sama akan masuk ke dalam surga.” Demikianlah ucapan mereka dengan mulut-mulut mereka.

    Akan tetapi para ulama menjelaskan bahwasanya yang dimaksud dengan Yahudi dalam ayat tersebut dan ayat-ayat yang semisalnya adalah mereka yang hidup di zaman Nabi Musa lalu beriman kepada Nabi Musa dan meninggal di atas keimanan kepada Allah. Demikian halnya Nashrani yang dimaksud adalah mereka yang hidup di zaman Nabi Isa lalu beriman kepada beliau dan meninggal di atas keimanan kepada Allah. Atau dengan kata lain mereka semua itu beragama Islam, dalam sudut tinjauan yang umum.

    Adapun setelah diutusnya Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam-, maka definisi Islam secara umum sudah tidak berlaku lagi, dan yang tersisa hanyalah Islam dalam artian khusus. Sehingga tidak ada Islam kecuali apa yang beliau dakwahkan dan tidak ada muslim kecuali siapa yang beriman kepada beliau. Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Tidak ada seorang pun yang mendengar bahwa saya telah terutus -baik dia Yahudi maupun Nashrani-, lalu dia tidak beriman dengan apa yang saja bawa, kecuali dia menjadi penghuni api neraka.” (HR. Muslim dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash)

    Karenanya, siapapun yang muslim di zaman nabi Isa lalu menjumpai zaman Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam tapi dia tidak mau beriman kepada beliau, maka dia adalah orang yang kafir dan keislaman dia kepada Nabi Isa batal. Demikian halnya siapa saja yang beragama Islam (dalam artian umum) di zaman Nabi Musa Alaihissalam lalu mendapati zaman Nabi Muhammad tapi tidak mau beriman kepada beliau, maka dia bukan lagi seorang muslim tapi kafir.

    Hal itu karena mendustakan seorang rasul sama halnya mendustakan seluruh rasul, sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala, “Kaum Nuh telah mendustakan para rasul.” (QS. Asy-Syuara`: 105) Dalam ayat ini Allah menghukumi kaum Nuh mendustakan para rasul, padahal yang diutus kepada mereka hanyalah Nuh. Itu karena mendustakan Nuh sama saja dengan mendustakan semua rasul yang akan datang setelah beliau.
    Kita kembali kepada definisi Islam, yaitu: Penyerahan diri kepada Allah dengan bertauhid, tunduk kepada-Nya dengan ketaatan dan berlepas diri dari kesyirikan serta para pelakunya. Maka Islam mengandung tiga perkara yang wajib untuk ditunaikan: Bertauhid kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala,  taat kepada-Nya sesuai dengan yang dituntunkan oleh Rasul-Nya, bBerlepas diri dari semua semua bentuk kesyirikan beserta para pelakunya.

    Barangsiapa yang tidak mempunyai salah satu dari ketiga perkara ini maka dia bukanlah seorang muslim, dan barangsiapa yang ketiga perkara ini tidak ada pada dirinya secara sempurna maka berarti keislamannya pun tidak sempurna.

    A. Bertauhid kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala

    Yaitu mengesakan Allah Subhanahu Wa Ta'ala pada semua perkara yang merupakan hak khusus milik-Nya, berupa rububiah, uluhian serta asma wa ash-shifat. Pembahasan mengenai tauhid kepada Allah dengan semua rinciannya adalah pembahasan yang cukup luas, karenanya kami undurkan dan insya Allah akan kami terangkan dalam pembahasan seputar tauhid pada edisi-edisi mendatang.

    B. Taat kepada Allah sesuai dengan petunjuk Rasul-Nya.

    Hal ini telah sedikit kita singgung ketika membahas konsokuensi dari syahadat ‘Muhammad Rasulullah’. Dimana kita terangkan bahwa di antara konsikuensinya adalah wajibnya menyembah Allah Subhanahu Wa Ta'ala hanya dengan cara yang telah diajarkan oleh Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam-. Dan insya Allah pada kesempatan mendatang akan kita tambahkan permasalahan lain yang berhubungan dengannya.

    C. Berlepas diri dari semua bentuk kesyirikan beserta para pelakunya.

    Ini termasuk dari masalah prinsipil dalam tauhid yang banyak dilalaikan oleh kebanyakan kaum muslimin di zaman ini. Mereka mengaku beragama Islam, akan tetapi mereka belum berlepas diri sepenuhnya dari menyembah selain Allah, walaupun kami meyakini bahwa kebanyakan mereka adalah orang-orang yang jahil atau yang dikuasai oleh syubhat, yang karenanya mereka tidak boleh dikafirkan dan tetap berstatus sebagai seorang muslim.

    Tidakkah mereka mengambil pelajaran dari apa yang diucapkan oleh ayah para nabi, Ibrahim -alaihissalam- sebagaimana yang Allah firmankan tentang beliau, “Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya, “Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian sembah, tetapi (aku menyembah) Tuhan Yang menjadikanku; karena sesungguhnya Dia akan memberi hidayah kepadaku”. (QZ-Zukhruf: 26-27)

    Inilah ucapan seorang yang Allah sifatkan sebagai ‘ummah (pimpinan dalam kebaikan)’ ‘qunut (taat)’ kepada Allah dan tidak termasuk ke dalam golongan orang-orang musyrik. Bahkan ucapan pengingkaran dan bara` (berlepas diri) ini juga merupakan ucapan seluruh para nabi dan rasul sebelum dan setelah beliau. Sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala, “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagi kalian pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia, ketika mereka berkata kepada kaum mereka, “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dari dari apa yang kalian sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) kalian dan telah nyata antara kami dan kalian permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kalian beriman kepada Allah saja.” (Al-Mumtahanah: 4)

    Asy-Syaikh Saleh bin Abdil Aziz menyatakan dalam Syarh Tsalatsah Al-Ushul bahwa yang dimaksud dengan ‘orang-orang yang bersama dengan dia (Ibrahim)’ adalah seluruh para nabi dan rasul. Bentuk berlepas diri dari kesyirikan dan kekafiran adalah dengan: (1)Tidak melakukan dan atau meyakini kesyirikan dan kekafiran tersebut, (2)tidak berkasih sayang dan menyenangi para pelakunya, (3)tidak mendekati tempat-tempat dan perayaan-perayaan kekafiran dan kesyirikan, dan tidak berperan serta dalam pelaksanaannya, baik dengan harta maupun badannya (4)serta harus marah dan tidak senang ketika ada orang yang menyembah selain Allah.

    Karenanya betapa mengherankan ucapan seorang yang mengaku muslim, tatkala dikatakan kepadanya -misalnya-, “Si fulan datang ke kuburan si fulan untuk mencari berkah dan berdoa kepadanya,” tapi dia hanya mengomentari dengan santainya, “Terserah dia, yang penting bukan saya yang berbuat kesyirikan.” Allahu Akbar, beginikah sikap seorang muslim melihat atau mendengar kesyirikan terjadi di dekatnya?! Seharusnya dia mengingkari dengan keras, marah dan hatinya tidak tenang selama masih ada yang disembah selain Allah.

    Karenanya barangsiapa yang menghendaki keimanan yang sempurna, maka hendaknya dia mengikuti para nabi dan rasul dalam sikap mereka terhadap para pelaku kesyirikan. Mereka sama sekali tidak menampakkan kecintaan mereka dan kasih saying mereka kepada orang-orang yang mempersekutukan Allah, walaupun pelaku kesyirikan itu adalah kerabat dekat mereka sendiri. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman, mengingatkan ciri khas orang-orang yang beriman kepada-Nya dan kepada hari akhirat, “Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, mereka saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itubapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Meraka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. ” (Al-Mujadilah: 22)

    Dan yang pertama kali masuk ke dalam golongan ini adalah para nabi, kemudian yang paling mirip dengan mereka, kemudian yang paling mirip dengan mereka.

    Telah dipaparkan di dalam Al-Qur`an bagaimana sikap Nabi Nuh Alaihissalam kepada anaknya yang musyrik, Nabi Ibrahim kepada ayahnya yang musyrik, Nabi Luth kepada istrinya yang musyrik, Nabi Musa Alaihissalam kepada Firaun yang telah merawatnya sejak kecil dan Nabi Muhammad kepada pamannya yang telah melindungi beliau dengan sekuat tenaga. Sikap mereka semua sama, yaitu membenci dan memutuskan kasih sayang kepada kerabat terdekat mereka, tatkala mereka mempersekutukan Allah.

    Sebagai penutup dan sekaligus sebagai catatan penting, bahwa keharusan untuk membenci dan tidak boleh berkasih sayang kepada orang kafir dan orang musyrik, tidaklah menunjukkan bahwa kita tidak boleh berbuat baik kepada mereka. Bahkan Islam menganjurkan untuk berbuat baik kepada mereka dan membalas mereka dengan kebaikan tatkala mereka berbuat baik kepada kita. Akan tetapi perbuatan baik kita kepada mereka tidak boleh lahir karena kecintaan dan kasih sayang kepada mereka, akan tetapi harus hanya semata-mata karena tabiat kemanusiaan yang akan membalas dengan kebaikan ketika orang lain (walaupun kafir) berbuat baik kepada dirinya. Allah Ta’ala berfirman, “Allah tidak melarang kalian untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang (kafir) yang tidak memerangi kalian karena agama dan tidak (pula) mengusir kalian dari negeri-negeri kalian. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kalian untuk menjadikan sebagai kawan, orang-orang yang memerangi kalian karena agama dan mengusir kalian dari negeri-negeri kalian, dan membantu (orang lain) untuk mengusir kalian. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Mumtahanah: 8-9) Karenanya Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- memerintahkan Asma`binti Abu Bakar untuk menerima ibunya yang bertamu yang ketika itu masih musyrik dan juga nasehat beliau kepada Sa’ad bin Abi Waqqash untuk berbuat baik kepada ibunya yang musyrik dan seterusnya.

    Wallahu waliyyut taufiq was sadad.
    Penulis: Abu Muawiah

    0komentar :

    Posting Komentar

    top